Seorang pasien menjalani perawatan di rumah sakit akibat kondisi kesehatan yang menurun.(Abidin/Lintas Samudera)
Identitas pasien disamarkan untuk melindungi privasi.
Lintassamudera.com - Di tengah sorotan terhadap penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) di Desa Semambung Kecamatan Gedangan Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur, tersimpan cerita yang tak seluruhnya tampak di permukaan.
Di satu sisi, pihak terkait menyampaikan klarifikasi atas isu yang berkembang. Di sisi lain, seorang warga mengungkap perjuangan hidup di tengah sakit dan tekanan ekonomi.
Windy Kusumaningtyas, mantan Kepala Desa Semambung yang kini maju sebagai calon kepala desa nomor urut 3, memberikan penjelasan atas isu yang berkembang terkait penyaluran BLT di desa tersebut.
Ia menegaskan bantuan telah disalurkan sesuai ketentuan saat dirinya masih menjabat.
“Kalau dikaitkan dengan hal tersebut, insya Allah tidak. Bantuan disalurkan utuh, tanpa pemotongan,” tegas Windy saat ditemui wartawan, Minggu (05/03/2026).
Windy Kusumaningtyas saat memberikan keterangan kepada wartawan terkait penyaluran BLT di Desa Semambung. (Abidin/Lintas Samudera)
Ia menjelaskan, proses penetapan penerima dilakukan melalui musyawarah berjenjang, mulai dari tingkat RT, RW hingga desa. Keputusan tersebut, menurutnya, mempertimbangkan kondisi riil masyarakat.
“Ada yang kehilangan penghasilan, ada yang sakit, bahkan ada yang menjadi tulang punggung keluarga. Itu yang kami lihat di lapangan,” paparnya.
Terkait adanya penerima dari kalangan keluarga perangkat desa, ia menilai kondisi ekonomi tetap menjadi dasar utama dalam penentuan.
“Yang kami pertimbangkan adalah kelayakan secara kondisi, bukan sekadar hubungan,” tambahnya.
Di sisi lain, Kepala Dusun Kalangan, Riono, menyampaikan kondisi yang dialaminya dalam beberapa tahun terakhir.
“Istri saya sakit sampai dirawat di ICU. Sejak itu saya tidak bisa berjualan,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, kondisi tersebut berdampak langsung pada ekonomi keluarga. Sumber penghasilan terhenti, sementara kebutuhan terus berjalan.
“Penghasilan tidak ada, tapi kebutuhan tetap berjalan. Untuk makan sehari-hari saja terasa berat,” ungkapnya.
Riono juga menyebut harus menanggung beban utang dengan cicilan cukup besar setiap bulan. Untuk menutup kebutuhan, ia mengaku meminjam ke berbagai pihak.
Kondisi rumah yang ditempatinya pun belum dapat diperbaiki, meski beberapa bagian mengalami kerusakan.
Meski namanya ikut menjadi perhatian dalam polemik, ia tidak menampik dirinya menerima BLT. Ia mengakui bantuan tersebut diterima saat kondisi ekonomi keluarganya sedang sulit.
“Saat itu saya memang membutuhkan. Kondisi saya memang seperti ini,” ucapnya.
Terkait isu yang berkembang, ia memilih tidak berspekulasi dan siap memberikan penjelasan jika diperlukan.
“Kalau diminta klarifikasi, saya siap,” pungkas Riono.
Di balik perdebatan mengenai data dan kelayakan penerima, terdapat kenyataan yang tidak selalu terlihat dalam angka.
Kondisi warga yang beragam menjadi tantangan tersendiri dalam penyaluran bantuan. Karena itu, kehati-hatian, transparansi, dan pemahaman menyeluruh diperlukan agar bantuan benar-benar tepat sasaran. (abidin)
Reporter : Zaenal Abidin | Editor : Bagus Setyabudi
