Top Menu

pendidikanSumbawa

SMKN 3 Sumbawa Besar Perkuat Pendidikan Vokasi Berbasis Industri dan Teknologi

Tim Redaksi
Rabu, 27 Mei 2026, Mei 27, 2026 WAT
Last Updated 2026-05-27T18:12:44Z
Kepala SMKN 3 Sumbawa Besar, Ansari, S.Pd., M.Pd. (Ade/Lintas Samudera)


Lintassamudera.com – SMKN 3 Sumbawa Besar terus memperkuat pengembangan pendidikan vokasi berbasis dunia industri, teknologi, dan pembentukan karakter siswa guna menyiapkan lulusan yang kompeten serta siap menghadapi dunia kerja.

Kepala SMKN 3 Sumbawa Besar, Ansari, S.Pd., M.Pd. mengatakan sejak mulai memimpin sekolah tersebut pada Juni 2023, dirinya terlebih dahulu melakukan observasi untuk melihat kebutuhan dan arah pengembangan sekolah ke depan.

“Saya pertama membangun komitmen kerja bersama tim manajemen sekolah, terutama wakasek dan kaprodi agar arah pengembangan sekolah lebih fokus dan terukur,” ujar Ansari saat dikonfirmasi media ini, Kamis (21/05/2026) di ruang kerjanya.

Dari hasil observasi tersebut, sekolah terus memperkuat sistem pembelajaran berbasis Teaching Factory (TEFA) dan pengelolaan BLUD yang memberikan fleksibilitas dalam mendukung praktik pembelajaran siswa.

Menurut Ansari, melalui konsep TEFA, sekolah dapat memanfaatkan anggaran praktik untuk menghasilkan produk yang terhubung dengan dunia industri dan dipasarkan melalui pihak ketiga.

“Keuntungan dari hasil praktik itu kemudian dipergunakan kembali untuk menunjang praktik berikutnya,” jelasnya.

Pada 2024, SMKN 3 Sumbawa Besar berhasil ditetapkan sebagai SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) untuk jurusan Teknik Komputer dan Jaringan serta Desain Komunikasi Visual.

Program tersebut, kata Ansari, menjadi salah satu langkah penguatan kualitas pendidikan vokasi di sekolah yang dipimpinnya.

Tak berhenti di sana, pada 2025 sekolah kembali memperoleh program Teaching Factory Kolaborasi dengan total anggaran Rp1,5 miliar.

Ia menjelaskan, dana tersebut digunakan untuk pengadaan alat praktik dan penunjang bengkel, pengembangan pembelajaran, workshop, pelatihan guru, hingga program magang guna memperkuat kualitas tenaga pendidik.

“Kami ingin pembelajaran di SMK benar-benar selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri,” terangnya.

Sebagai bentuk pengembangan kreativitas siswa, sekolah juga menghadirkan “Satelas Store”, ruang galeri sekaligus praktik usaha yang menampilkan berbagai produk hasil karya siswa lintas jurusan.

Menurut Ansari, ruang tersebut sebelumnya merupakan ruang kelas yang kemudian dialihfungsikan menjadi tempat praktik dan galeri produk siswa.

Suasana ramai di Satelas Store — orang tua dan siswa berinteraksi langsung dalam ruang praktik kewirausahaan SMKN 3 Sumbawa Besar. (Ade/Lintas Samudera)

Selain itu, melalui program link and match, SMKN 3 Sumbawa Besar turut menjalin kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri, termasuk sinkronisasi kurikulum dan praktik kerja lapangan siswa.

“Pada saat PKL ada program guru tamu dari dunia industri. Anak-anak juga praktik langsung di percetakan untuk desain dan produksi,” ungkapnya.

Produk unggulan TEFA SMKN 3: Kopi “Mangin” dan kerajinan tangan hasil karya siswa dari jurusan Agribisnis & Seni Rupa, dipajang dan dijual di Satelas Store. (Ade/Lintas Samudera)

Ansari menilai langkah tersebut penting agar lulusan SMK memiliki kesiapan dan pengalaman sebelum memasuki dunia kerja.

Ia juga mengakui tantangan pendidikan vokasi di daerah masih berkaitan dengan terbatasnya industri besar yang ada di Kabupaten Sumbawa.
Di tengah perkembangan teknologi informasi, sekolah mulai menyesuaikan pembelajaran dengan pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“Sekarang segala sesuatu dipermudah dengan teknologi. Termasuk program mesin sablon dan cetak yang bekerja sama dengan percetakan,” katanya.

Meski demikian, pengawasan penggunaan telepon genggam di lingkungan sekolah tetap diterapkan agar proses pembelajaran berjalan lebih efektif.

“Kecuali memang diperlukan untuk kebutuhan pembelajaran tertentu, penggunaan HP diperbolehkan,” tegasnya.

Ansari juga berharap pendidikan vokasi mendapat dukungan lebih optimal, terutama terkait penguatan anggaran pendidikan untuk menunjang kebutuhan praktik siswa di SMK.

Menurutnya, kebutuhan pembelajaran vokasi membutuhkan dukungan yang lebih besar karena berkaitan langsung dengan praktik dan pengembangan kompetensi siswa.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Ansari optimistis SMK memiliki peran penting dalam mencetak generasi muda yang kompeten, kreatif, mandiri, dan berdaya saing.

“Yang paling penting, anak-anak memiliki keterampilan, karakter, dan semangat untuk terus berkembang,” tuturnya.

Di tengah pembicaraan serius tentang pendidikan, anggaran, hingga dunia industri, ia menutup percakapan dengan kalimat sederhana.

“Jangan lupa bahagia,” tutupnya.

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi cukup menggambarkan bagaimana ia memandang pendidikan: bukan sekadar mengejar target dan angka, melainkan juga menyiapkan manusia yang siap menjalani hidup dengan percaya diri dan harapan. (ade*)

Reporter: Ade Ikhsan Jaya | Editor: Bagus Setyabudi

TrendingMore