Top Menu

daerahnews

Dari Rembuk Desa ke Bengkel Perahu Fiber, Ikhtiar Segoro Tambak Menjaga Nafas Nelayan

Redaksi
Senin, 05 Januari 2026, Januari 05, 2026 WAT
Last Updated 2026-01-06T07:32:31Z
Foto : Sekertaris Desa Segoro Tambak saat dikonfirmasi oleh media ini.

Sidoarjo, lintassamudera.com-Di lantai rumah warga Desa Segoro Tambak, Kecamatan Sedati, beberapa nelayan tampak menunduk merakit badan perahu fiber berwarna biru muda. Tangan-tangan itu bekerja perlahan, menyusun rangka dan lapisan bahan sintetis yang kelak akan membawa mereka melaut. Aktivitas tersebut bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan bagian dari ikhtiar desa mencari jalan keluar atas kian beratnya beban hidup nelayan pesisir.

Gagasan pembangunan di Desa Segoro oleh Kepala Desa segoro Tambak, Hj. Anik Mahmudah melalui Sekertaris Desa, Edi Setiawan bahwa tambak tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dirajut melalui forum-forum warga yang digelar rutin setiap tahun. Melalui Analisis Kebutuhan Partisipatif (AKP), pemerintah desa menyerap aspirasi masyarakat—termasuk petani dan nelayan—sebelum menetapkannya sebagai program resmi.

Kepala Desa Segoro Tambak melalui Sekretaris Desa, Edi Setiawan, menuturkan bahwa forum tersebut menjadi ruang penting agar kebijakan desa tidak berjalan satu arah. Dalam AKP, seluruh unsur masyarakat diundang untuk memetakan persoalan dan kebutuhan yang dianggap paling mendesak.

“Dari forum itu kami bisa mengetahui kebutuhan riil tiap kelompok. Program desa disusun dari bawah ke atas, bukan ditentukan sepihak,” tuturnya saat ditemui, Senin (05/01/2026).

Hasil rembuk kemudian diterjemahkan ke dalam dokumen perencanaan desa. Usulan yang masuk disaring dan diprioritaskan, terutama yang berkaitan dengan sektor pertanian dan perikanan—dua penopang utama ekonomi warga Segoro Tambak. Menurut Edi, sebagian besar program untuk nelayan ditempatkan dalam skema pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar bantuan langsung.

Salah satu kebijakan yang kini mulai menunjukkan hasil adalah pelatihan pembuatan perahu fiber. Inisiatif ini berangkat dari kegelisahan desa melihat harga perahu kayu yang terus meningkat, sementara kemampuan ekonomi nelayan kian terbatas.
Foto : Proses pembuatan perahu fiber oleh nelayan Segoro Tambak, Sedati, Sidoarjo, yang dikembangkan melalui pelatihan berbasis kebutuhan warga. (lintassamudera.com)

Beberapa tahun lalu, perangkat desa bersama perwakilan nelayan melakukan studi banding ke Probolinggo. Dari sana, mereka melihat peluang penggunaan bahan fiber sebagai alternatif perahu kayu. “Perahu kayu semakin mahal. Kami harus mencari pilihan yang lebih efisien dan memungkinkan dikerjakan sendiri oleh nelayan,” jelasnya.

Setelah studi banding, desa mendatangkan instruktur ke Segoro Tambak. Pelatihan digelar bertahap, mulai dari pengenalan bahan, teknik pembuatan, hingga perahu siap digunakan. Dari proses tersebut kemudian terbentuk Paguyuban Kelompok Pembuat Perahu Fiber, yang mewadahi nelayan dengan minat dan komitmen untuk menekuni keterampilan baru ini.

Perlahan, hasilnya mulai terlihat. Hingga kini, kelompok tersebut telah memproduksi tujuh unit perahu fiber. Tak hanya dimanfaatkan sendiri, hasil produksi mereka mulai menarik perhatian desa lain di sekitar wilayah pesisir Sidoarjo.
Edi menilai capaian tersebut sebagai bukti bahwa pelatihan yang disertai pendampingan berkelanjutan dapat memberi dampak nyata. “Pelatihan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Tujuannya agar warga benar-benar mandiri,” ungkapnya.

Sebagai bentuk dukungan lanjutan, pemerintah desa juga mengalokasikan pengadaan perahu dengan memprioritaskan produk buatan kelompok lokal. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan usaha warga sekaligus memperkuat ekonomi desa.

Meski demikian, Edi tidak menampik adanya sejumlah kendala. Tantangan utama saat ini terletak pada pemasaran hasil produksi dan pola pikir sebagian masyarakat. Masih terdapat anggapan bahwa program desa sepenuhnya bersifat hibah dan tidak memerlukan tanggung jawab jangka panjang.
“Pola pikir seperti itu justru bisa menjadi bumerang bagi keberlanjutan program,” akunya.
Di sisi lain, jumlah nelayan di Segoro Tambak juga terus menurun dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut mendorong desa untuk mencari terobosan agar nelayan yang tersisa memiliki nilai tambah, tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan harian.

Ke depan, desa berupaya mendorong nelayan agar mampu mengolah hasil perikanan sesuai kebutuhan pasar. Dengan begitu, nilai ekonomi diharapkan tidak berhenti di laut, tetapi dapat tumbuh di darat melalui kegiatan pengolahan dan usaha turunan lainnya.
“Harapannya, nelayan Segoro Tambak tidak hanya bertahan, tetapi juga bisa naik kelas,” pungkasnya.

Di tengah keterbatasan, Desa Segoro Tambak mencoba merawat harapan itu—berangkat dari rembuk warga, tumbuh lewat pelatihan, dan berujung pada upaya menjaga keberlanjutan hidup nelayan pesisir. (bgs)

TrendingMore