Dompu,-Upacara puncak Hari Jadi Dompu yang ke-211 tahun yang digelar di lapangan beringin Pemda Dompu pada Sabtu (11/04/2026) justeru disambut hangat oleh aksi demonstrasi dari puluhan mahasiswa PMII.
Dalam orasinya, mahasiswa secara terbuka melabeli pasangan Bupati dan Wakil Bupati Dompu BBF-DJ dengan “Rapor Merah”. Sebab kata mahasiswa, dalam satu tahun kepemimpinan mereka Dompu masih dianggap jalan ditempat dan justeru tidak sesuai dengan jargon bernana Dompu Maju.
"Pemerintahan sekarang tidak hanya sekedar mengecewakan, tapi juga mencerminkan kegagalan serius dalam mengurus persoalan mendasar rakyat Dompu,"kata mahasiswa dalam orasinya.
Aksi demonstrasi tersebut sempat memanas, aparat kepolisian yang siaga penuh, terpaksa membatasi ruang gerak massa aksi dengan maksud agar tidak mengganggu jalannya kegiatan upacara resmi di lapangan beringin.
Namun aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat pun pecah. Walaupun demikian namun suasana kembali aman terkendali.
Dalam aksinya, massa menyampaikan 5 tuntutan keras yang disebut sebagai “alarm bahaya” bagi masa depan Dompu yakni :
- Massa menuding mandeknya roda birokrasi akibat kosongnya sejumlah jabatan strategis OPD. Mutasi dan rotasi dinilai bukan lagi opsi, melainkan keharusan yang tak bisa ditunda.
- Isu retaknya hubungan antara Bupati dan Wakil Bupati Dompu ikut diseret ke ruang publik. Mahasiswa mendesak agar keduanya dapat melakukan klarifikasi secara terbuka, karena menilai disharmoni kedua pucuk pimpinan hanya akan melahirkan Pemerintahan yang pincang dan tidak fokus.
- Sektor infrastruktur disorot tajam. jalan rusak, minimnya penerangan, hingga krisis air bersih disebut sebagai bukti nyata Pemerintah gagal hadir untuk kebutuhan dasar masyarakat.
- Mahasiswa menuding carut-marut distribusi hasil tani sebagai bentuk pembiaran. Peran Bulog dan gudang jagung dipertanyakan, karena petani dinilai terus berada di posisi paling dirugikan.
- Lemahnya koordinasi Pemerintah dengan aparat lapangan seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas disebut memperparah kondisi distribusi hasil pertanian yang tak terkendali.
"Aksi kami ini bukan sekedar unjuk rasa biasa tapi ini merupakan peringatan terbuka bagi Pemerintahan BBF DJ,"ujar massa aksi.
Massa juga menegaskan, jika Pemerintah Daerah tetap abaikan dan terus bermain dalam zona nyaman, maka gelombang perlawanan yang lebih besar akan terjadi dan itu tinggal menunggu waktu saja.
"Ada satu pertanyaan kami yang menggantung yakni apakah BBF-DJ masih layak memimpin, atau justeru menjadi bagian dari masalah yang kian membebani Dompu,"tegas massa.(Amin)
