masukkan script iklan disini
Dompu,-Tiga pelajar SMPN 6 Dompu NTB yakni Ifat Assyarif, Faisal dan Muhammad Alghevari berhasil melahirkan karya kreatif berupa senter dan kipas angin dari barang-barang bekas. Hasil karya anak bangsa ini patut di acungi jempol dan diberikan motivasi oleh Pemerintah.
Awalnya, ketiga pelajar ini hanya iseng saja dengan melakukan lomba untuk melihat siapa yang mampu menghasilkan karya paling bagus dan kreatif. Namun dari persaingan kecil itu tumbuh lah semangat untuk terus mencoba, belajar dan berinovasi.
Dengan menggunakan sejumlah barang bekas menjadi bahan eksperimen ketiganya lalu mencoba memanfaatkan barang bekas tersebut untuk membuat karya kreatif nya. Bahkan ketiganya berusaha mencari referensi, mempelajari cara kerja suatu produk, kemudian merakitnya sendiri hingga menghasilkan karya yang memiliki nilai guna yang patut dibanggakan.
Menariknya, proses kreatif tersebut dilakukan di tengah derasnya arus perkembangan teknologi, internet, dan media sosial yang semakin lekat dengan kehidupan anak-anak dikala sebagian anak seusia mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget untuk bermain game atau menikmati berbagai konten media sosial.
Justeru Ifat, Faisal, dan Alghevari sapaan akrabnya justeru mengunjuk kebolehannya dengan cara mencoba mengambil sisi lain dari perkembangan teknologi tersebut.
Mereka memanfaatkan internet bukan hanya sebagai sarana hiburan semata, tapi juga sebagai sumber belajar dan ilmu pengetahuan. Berbagai referensi dan informasi yang mereka temukan kemudian dicoba secara langsung di rumah dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang tersedia.
Dari sinilah persaingan antar teman tersebut berkembang menjadi sebuah proses belajar. Mereka saling memacu kreativitas, mencoba berbagai cara, menemukan kendala, kemudian memperbaiki hasil karya masing-masing lagi.
Kreativitas ketiga siswa tersebut mendapat apresiasi dari pihak SMPN Negeri 6 Dompu.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, St. Nurwahidah, S.Pd.,Gr. mengatakan, apa yang dilakukan Ifat, Faisal, dan Alghevari merupakan contoh bagaimana peserta didik dapat memanfaatkan perkembangan teknologi secara produktif.
“Yang menarik bagi saya justeru proses awalnya. Mereka bertiga adalah sahabat, kemudian muncul keinginan untuk saling berlomba, siapa yang bisa membuat karya paling bagus. Dari lomba kecil itulah ternyata lahir hasil kreativitas yang luar biasa,”kata Nurwahidah.
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini bukan hanya sekedar bagaimana menjauhkan anak dari teknologi, tetapi bagaimana agar mereka mampu mengarahkan serta menggunakan teknologi untuk hal-hal yang produktif.
“Di tengah gempuran media sosial dan internet, anak-anak memang tidak mungkin kita jauhkan dari teknologi. Yang perlu kita lakukan adalah mengajarkan mereka bagaimana memanfaatkannya untuk belajar. Ketiga nya ternyata mampu menunjukkan bahwa internet tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga bisa menjadi sumber inspirasi untuk belajar, mencoba, kemudian menghasilkan karya sendiri,”ujar Nurwahidah.
Ia menilai, kreativitas semacam itu perlu mendapatkan ruang dan apresiasi di lingkungan sekolah sebab, kemampuan siswa tidak hanya dapat dilihat dari nilai akademik, tetapi juga dari keberanian mereka mencoba, menemukan persoalan, mencari solusi, dan menghasilkan sesuatu.
“Saya berharap ini menjadi inspirasi bagi siswa lainnya. Tidak harus langsung membuat sesuatu yang besar tapi harus mulai saja dari barang yang ada di sekitar kita, dari rasa ingin tahu, kemudian berani mencoba. Dari situlah inovasi biasanya lahir,”harapnya.
Sementara Kepala SMP Negeri 6 Dompu, Muh. Dodi Gunawan Anwar, S.Pd.,Gr., yang baru mengemban amanah sebagai kepala sekolah definitif, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas ketiga siswanya tersebut.
Ia menyampaikan bahwa sekolah akan selalu memberikan dukungan terhadap setiap prestasi, kreativitas, dan potensi yang dimiliki peserta didik.
“Sebagai kepala sekolah yang baru, tentu saya merasa bangga sekaligus memberikan apresiasi yang tinggi atas pencapaian anak-anak kita. Sekolah akan selalu hadir untuk mendukung setiap prestasi dan kreativitas yang ditunjukkan siswa, sekecil apa pun itu, karena dari langkah-langkah kecil seperti inilah saya yakin akan lahir prestasi-prestasi besar di kemudian hari,”ucap Dodi.
Menurutnya, karya yang dihasilkan ketiga siswa tersebut memiliki makna lebih dari sekedar produk berupa senter dan kipas angin. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, keberanian siswa untuk menggunakan gadget sebagai sarana belajar dan berkarya merupakan hal yang patut diapresiasi.
Sebab kemampuan siswa dalam memanfaatkan barang bekas juga menunjukkan adanya kepekaan terhadap lingkungan sekaligus kemampuan berpikir kreatif dan solutif.
“Mereka tidak melihat barang bekas hanya sebagai sampah, tapi mereka melihat ada sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan. Cara berpikir seperti ini yang harus kita tumbuhkan. Anak-anak harus dibiasakan untuk melihat masalah sebagai peluang untuk menciptakan solusi,”ujarnya.
Ia berharap kreativitas Ifat, Faisal, dan Alghevari tidak berhenti pada karya yang telah mereka hasilkan saat ini karena proses mencoba, menemukan kesulitan, memperbaiki kesalahan, hingga akhirnya berhasil menghasilkan sebuah produk merupakan pengalaman belajar yang sangat berharga.
“Saya berharap ini bukan menjadi karya pertama sekaligus terakhir. Jadikan ini sebagai awal untuk terus mencoba, terus belajar, dan jangan takut gagal. Kalau hari ini mereka mampu membuat senter dan kipas dari barang bekas, mudah-mudahan ke depan mereka bisa menciptakan karya yang lebih besar, lebih inovatif, bahkan bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa dan negara,”harap Dodi.(Amin Kasipahu)

