Sumbawa, lintassamudera.com — Pelayanan air bersih di Kabupaten Sumbawa sedang berada pada fase krusial. Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Batulanteh mengakui masih adanya keterbatasan layanan, terutama soal kontinuitas distribusi dan kualitas jaringan pipa yang telah berusia puluhan tahun. Namun, di tengah berbagai keluhan pelanggan, Perumdam Batulanteh menegaskan komitmen kuat untuk melakukan perbaikan menyeluruh mulai tahun 2026.
Hal itu disampaikan Direktur Perumdam Batulanteh Kabupaten Sumbawa, H. Abdul Hakim, S.E, melalui Bagian Teknis dan Pelayanan, Yunan, dalam wawancara di Kantor Perumdam Batulanteh, Selasa (20/01/2026).
Sumber air baku Perumdam Batulanteh berasal dari Bendung Semongkat. Air dari bendung tersebut diolah di Instalasi Pengolahan Air (IPA) atau Water Treatment Plant (WTP), sebelum didistribusikan kepada pelanggan. Namun, persoalan utama bukan pada ketersediaan sumber air, melainkan pada jaringan distribusi yang telah melampaui umur teknis.
“Instalasi dan jaringan pipa kami dibangun sejak tahun 1980-an. Usianya sudah lebih dari 40 tahun, sehingga secara teknis memang tidak lagi ideal,” terangnya.
Kondisi ini membuat Perumdam Batulanteh belum berani menyatakan air yang dialirkan sebagai air minum. Saat ini, layanan yang diberikan masih dikategorikan sebagai air bersih, kecuali di beberapa shelter tertentu yang jaringan pipanya relatif masih layak.
Dalam Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), terdapat empat prinsip utama yang menjadi acuan pelayanan, yakni kuantitas, kualitas, kontinuitas, dan keterjangkauan. Dari keempat prinsip tersebut, Perumdam Batulanteh mengakui masih memiliki pekerjaan rumah besar.
“Kuantitas dan kualitas air baku sebenarnya tersedia. Tantangan terbesar kami saat ini adalah kontinuitas, karena belum semua wilayah bisa kami layani 24 jam,” jelasnya.
Saat ini, distribusi air di sebagian wilayah masih dilakukan secara bergilir atau berjadwal. Layanan air 24 jam baru dapat dinikmati secara penuh di wilayah BTN Bukit Permai, yang memiliki jalur distribusi langsung dari IPA.
Wilayah yang paling sering mengalami gangguan layanan sepanjang 2025 adalah kawasan dalam kota, Labuan, serta Kecamatan Moyo Utara dan Moyo Hilir. Jarak yang jauh dari sumber pelayanan membuat tekanan air ke wilayah tersebut tidak optimal.
“Daerah Moyo itu paling luas dan paling jauh. Karena itu, gangguan distribusi paling sering terjadi di sana,” paparnya.
Sebagai langkah strategis, Perumdam Batulanteh telah mengusulkan rehabilitasi total sistem pengolahan air. Pada 2023, pembenahan sumber air baku di Bendung Semongkat telah dilakukan. Selanjutnya, pada periode 2024–2025, perusahaan daerah ini memperjuangkan rehabilitasi IPA Pungkang.
Jika sesuai rencana, proyek rehabilitasi IPA dengan kapasitas 150 liter per detik tersebut akan dilaksanakan pada 2026. Pekerjaan ini mencakup perbaikan total instalasi serta penggantian pipa distribusi utama ke arah Moyo dan kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN).
“Ketidakmampuan teknis IPA yang sudah melewati umur teknis menjadi penyebab utama layanan belum maksimal. Rehabilitasi ini diharapkan bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas sekaligus,” kata Yunan.
Selain rehabilitasi IPA, Perumdam Batulanteh juga merencanakan penggunaan pompa booster untuk meningkatkan tekanan air ke wilayah terjauh. Langkah ini diharapkan dapat mengakhiri sistem distribusi bergilir dan mewujudkan layanan 24 jam secara bertahap.
“Mudah-mudahan dengan pompa booster, wilayah seperti Moyo Utara dan Moyo Hilir bisa menikmati layanan yang lebih adil,” ujarnya.
Meski demikian, Perumdam Batulanteh mengakui bahwa jaringan distribusi dalam kota yang sudah sangat tua masih menjadi tantangan lanjutan yang memerlukan pembiayaan besar dan dukungan pemerintah.
Di tengah keterbatasan teknis, Perumdam Batulanteh menegaskan tidak berhenti melayani masyarakat. Struktur organisasi telah dibagi jelas: pengaduan teknis seperti kebocoran dan sambungan baru ditangani Manajer Teknik, sementara keluhan rekening dan penagihan ditangani Manajer Hubungan Langganan.
Evaluasi kinerja dilakukan secara rutin, mulai dari laporan harian, mingguan, hingga evaluasi bulanan yang dilaporkan kepada Direktur.
“Kami terus memantau tren keluhan. Kalau kebocoran menurun, berarti pelayanan membaik. Kalau meningkat, itu alarm bagi kami untuk bekerja lebih cepat,” ujar Yunan.
Untuk meningkatkan keterbukaan informasi, Perumdam Batulanteh memanfaatkan media sosial sebagai sarana penyampaian informasi kepada publik. Melalui kanal tersebut, masyarakat dapat mengakses informasi layanan, pengumuman gangguan, hingga mekanisme pengaduan.
Pada 2026, Perumdam Batulanteh menargetkan tidak hanya perbaikan teknis, tetapi juga pemulihan kepercayaan pelanggan.
“Kami berkomitmen melayani, menerima semua keluhan, dan menanganinya secepat mungkin. Rehabilitasi total sistem air bersih adalah langkah besar kami untuk menjawab harapan masyarakat,” pungkasnya. (din)
Reporter: Dinda Nanda Rizty | Editor : Bagus Setyabudi
