Sumbawa Besar, lintassamudera.com — Di tengah lanskap Sumbawa yang dilingkupi sektor pertambangan dan industri penunjang, SMKN 2 Sumbawa Besar menapaki jalan yang tak sekadar meluluskan siswa, melainkan menyiapkan mereka untuk bertahan dan bersaing di dunia kerja. Sekolah vokasi ini menata ulang strategi pembelajaran dengan satu kata kunci: relevansi.
Kepala SMKN 2 Sumbawa Besar, Khaeruddin, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa kesiapan lulusan hari ini tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. “Siswa harus menguasai soft skill dan hard skill yang benar-benar dibutuhkan industri. Karena itu, kurikulum di kelas harus selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri,” tutur Khaeruddin kepada media ini, Selasa (03/02/2026).
Bagi Khaeruddin, jembatan antara sekolah dan dunia kerja dibangun melalui sinkronisasi kurikulum. Setiap kerja sama dengan industri mencakup penyusunan materi ajar bersama mitra. “Jangan sampai yang diajarkan A, sementara industri membutuhkan B. Itulah sebabnya kurikulum kami disusun bersama dunia usaha,” paparnya.
Di ruang praktik, konsep tersebut diterjemahkan lewat teaching factory—pembelajaran berbasis produksi yang mendorong siswa menghasilkan produk dan jasa layaknya di lingkungan industri. Di kelas, sekolah menghadirkan guru tamu dari dunia usaha untuk memperkenalkan budaya kerja, dinamika industri, serta keterampilan yang terus berubah mengikuti laju teknologi.
Tak hanya siswa, para guru pun “turun ke pabrik”. Sekolah menjalankan magang guru di industri, baik melalui program upskilling pemerintah maupun inisiatif mandiri. “Guru perlu merasakan langsung budaya kerja industri agar dapat menularkannya kepada siswa,” terangnya.
Arah program keahlian SMKN 2 Sumbawa Besar ditetapkan berdasarkan karakter wilayah. Sekolah berfokus pada manufaktur, rekayasa teknologi, serta teknik konstruksi dan properti—bidang yang menopang sektor pertambangan dan industri penunjang di Sumbawa.
“Di tambang dibutuhkan mekanik alat berat, mekanik kendaraan ringan, tenaga kelistrikan, welder, hingga tenaga pemesinan. Itu menjadi dasar analisis kami,” ujarnya.
Dari sejumlah program, Teknik Alat Berat menjadi kelas unggulan melalui kemitraan dengan PT Trakindo Utama. Khaeruddin menyebut serapan kerja lulusan program ini melampaui 95 persen. Penguatan capaian tersebut tercermin dari proses seleksi rekrutmen PT Trakindo Utama yang dilaksanakan pada 2–4 Februari 2026 di Candidate Assessment Center (Cang) Trakindo Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang diikuti oleh alumni SMKN 2 Sumbawa Besar untuk penempatan kerja di berbagai wilayah operasional Trakindo, khususnya Kalimantan.
Sekolah juga mengembangkan kelas Astra untuk Teknik Sepeda Motor, menjajaki teaching factory bersama PT Adhi Sakti (jejaring Festo), serta merintis kelas industri pengelasan dengan PT Dian Pandu Utama, perusahaan nasional di bidang welding. Komunikasi serupa tengah dibangun dengan PT Daikin.
“SMK tidak akan berkembang tanpa kemitraan yang kuat dengan industri. Pendidikan vokasi hanya tumbuh jika dunia usaha terlibat langsung,” katanya.
Di balik capaian serapan kerja, tantangan terbesar sekolah justru datang dari sertifikasi kompetensi. Banyak industri, terutama sektor pertambangan, mensyaratkan lisensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P2 atau P3.
“Sekolah kami belum memiliki LSP P1. Target tahun ini, SMKN 2 Sumbawa Besar sudah memilikinya. Tantangan lain adalah biaya sertifikasi yang relatif besar,” ungkapnya.
Selain itu, pembaruan sarana praktik menjadi pekerjaan rumah. Perkembangan teknologi yang cepat menuntut peralatan terbaru agar keterampilan siswa tetap relevan dengan kebutuhan industri.
Dua Jalur Masa Depan: Wirausaha dan Global
Keterbatasan industri di daerah membuat serapan lokal tidak selalu seimbang dengan jumlah lulusan. Karena itu, sekolah menguatkan dua jalur masa depan: kewirausahaan serta penempatan kerja luar daerah maupun luar negeri.
“Tidak semua siswa akan bekerja di perusahaan. Sebagian memilih membangun usaha. Karena itu, kewirausahaan kami perkuat,” katanya.
Untuk jalur global, sekolah merancang penguatan bahasa asing dan sertifikasi agar siswa siap mengikuti program magang dan kerja di luar negeri. “Di pasar global, selain keterampilan teknis, bahasa dan lisensi menjadi kunci,” tambahnya.
Khaeruddin menilai dukungan pemerintah pusat dan daerah terhadap pendidikan vokasi tergolong tinggi. SMKN 2 Sumbawa Besar menerima berbagai program seperti SMK Industri 4.0, bantuan bengkel dan peralatan, Dana Alokasi Khusus (DAK), serta Teaching Factory Kolaboratif pada 2025. “Perhatian terhadap vokasi kami rasakan di lapangan. Tagline ‘Vokasi Kuat, Menguatkan Indonesia’ bukan sekadar slogan,” tuturnya.
Dari sisi sosial, alumni menjadi penggerak inspirasi. Melalui program IKAS – Inspirasi Kakak Alumni, sekolah mengundang lulusan yang telah berkarier sebagai pengusaha, profesional industri, dosen, hingga politisi untuk berbagi pengalaman kepada adik kelas. “Mereka memberi gambaran nyata tentang budaya kerja dan jalan sukses,” katanya.
Partisipasi orang tua dan masyarakat, menurut Khaeruddin, relatif baik. Dukungan terlihat melalui komite sekolah, penggalangan dana program, hingga izin dan restu saat siswa magang ke luar daerah. “Dukungan keluarga konsisten dan menjadi kekuatan kami,” ucapnya.
Bagi Khaeruddin, ukuran keberhasilan sekolah tidak berhenti pada angka kelulusan. Ia berharap lima tahun mendatang SMKN 2 Sumbawa Besar dikenal sebagai pemasok tenaga kerja profesional dari Sumbawa—lulusan yang siap bekerja, siap berwirausaha, dan siap melanjutkan studi. “Kami ingin pasar kerja daerah dan nasional diisi oleh anak-anak kami,” pungkasnya. (din*)
Reporter : Dinda Nanda Rizty | Editor : Bagus Setyabudi
