Siswa SMKN 2 Sumbawa Besar melakukan praktik kerja tim dalam kegiatan Galar Karya sebagai bagian dari UKK.
Lintassamudera.com - Siswa SMKN 2 Sumbawa Besar tidak hanya dituntut menguasai keterampilan teknis, tetapi juga mampu bekerja dalam tim dan mempresentasikan gagasan. Hal itu tercermin dalam kegiatan Galar Karya yang menjadi bagian dari Uji Kompetensi Keahlian (UKK) di sekolah tersebut.
Kegiatan Galar Karya menjadi rangkaian akhir UKK bagi siswa kelas XII. Dalam kegiatan ini, siswa memamerkan sekaligus mempresentasikan produk hasil kerja tim yang telah mereka kerjakan.
Kepala SMKN 2 Sumbawa Besar, Khaeruddin, melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, Yuni Wulandari, mengatakan Galar Karya tidak sekadar menampilkan hasil karya, tetapi juga menjadi sarana melatih kepercayaan diri siswa.
“Ini menjadi ruang bagi siswa untuk mempresentasikan produk yang mereka buat, sekaligus melatih kemampuan berbicara di depan publik,” kata Yuni kepada media ini, Rabu (22/04/2026) siang.
Kegiatan tersebut melibatkan penguji eksternal dari dunia industri dan dunia kerja (IDUKA), penguji internal dari guru bidang keahlian, serta siswa kelas XII dari berbagai program keahlian.
Menurut Yuni, Galar Karya merupakan bagian akhir dari proses UKK sehingga penilaian dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya pada hasil akhir, tetapi juga proses yang dilalui siswa.
“Siswa dinilai mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga kemampuan menjelaskan produk yang dihasilkan,” jelasnya.
Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan di Aula Graha Tekno sekolah. Salah satu kekuatan utama dalam kegiatan ini adalah penerapan kolaborasi lintas kompetensi keahlian.
Program Desain Permodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) bertanggung jawab pada penyusunan desain dan estimasi biaya. Sementara Teknik Konstruksi dan Perumahan (TKP) menangani pekerjaan struktur bangunan, sedangkan Teknik Pengelasan Logam (TPL) mengerjakan konstruksi rangka atap baja ringan.
Seorang siswa SMKN 2 Sumbawa Besar mengerjakan desain bangunan menggunakan perangkat lunak di laptop sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek dan persiapan UKK.
“Kolaborasi ini penting karena di dunia kerja setiap bidang saling terhubung. Satu pekerjaan tidak bisa diselesaikan oleh satu kompetensi saja,” terangnya.
Dalam prosesnya, siswa memulai dari tahap perancangan desain, perhitungan anggaran, hingga pelaksanaan pembangunan secara bertahap sesuai bidang masing-masing. Model pembelajaran ini dinilai mampu menjawab kebutuhan industri yang menuntut keterampilan teknis sekaligus kemampuan kerja tim.
Melalui pendekatan teaching factory (Tefa), sekolah memastikan siswa memiliki kompetensi yang relevan dengan standar industri.
“Penguasaan keterampilan teknis atau hard skill menjadi fokus utama agar lulusan siap bersaing di dunia kerja,” ungkapnya.
Selain itu, berbagai produk hasil UKK dan Tefa telah berbasis teknologi, meski belum seluruhnya dipublikasikan secara luas. Sekolah juga terus mendorong penguatan teaching factory melalui peningkatan fasilitas praktik, pelatihan, hingga kerja sama dengan industri.
“Ke depan, pembelajaran akan terus diarahkan agar semakin dekat dengan kebutuhan dunia industri,” pungkasnya.
Melalui Galar Karya, SMKN 2 Sumbawa Besar tidak hanya mengukur capaian belajar siswa, tetapi juga menyiapkan lulusan yang adaptif, kolaboratif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja. (ade)
Reporter : Ade Ihksan Jaya | Editor : Bagus Setyabudi
