Top Menu

news

Progres 45 Persen, Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih Tanjungsari Didorong Jadi Motor Ekonomi Warga

Tim Redaksi
Rabu, 15 April 2026, April 15, 2026 WAT
Last Updated 2026-04-15T16:45:26Z
Sekretaris Desa Tanjungsari, M. Yusron (Bagus/Lintas Samudera)


Lintassamudera.com – Pemerintah Desa (Pemdes) Tanjungsari, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, terus mendorong pembangunan Koperasi Desa Merah Putih sebagai upaya memperkuat ekonomi masyarakat di tingkat desa.

Di tengah keterbatasan anggaran, pembangunan koperasi tetap berjalan dan kini telah mencapai progres sekitar 40 hingga 45 persen.

Kepala Desa melalui Sekretaris Desa Tanjungsari, M. Yusron, mengatakan pengerjaan gedung koperasi saat ini masih berada pada tahap struktur dasar. “Saat ini masih pengerjaan dinding dan tiang. Selanjutnya masuk tahap rangka atap dan pengecoran lantai,” ujar Yusron saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (15/04/2026).

Ia menjelaskan, pembangunan ditargetkan rampung pada akhir Juli 2026. “Untuk operasional kemungkinan pada tahun berikutnya setelah tahap pengisian selesai,” jelasnya.

Menurut Yusron, koperasi tersebut memang belum memberikan manfaat langsung kepada masyarakat karena belum beroperasi. “Sejauh ini memang belum dirasakan karena belum beroperasi,” katanya.

Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih di Tanjungsari merupakan bagian dari upaya pemerintah desa dalam mendukung peningkatan ekonomi masyarakat.

Koperasi ini dirancang lebih berfokus pada kegiatan ekonomi riil. “Arahnya ke sektor ekonomi seperti minimarket, klinik kesehatan, dan apotek,” terangnya.

Ia menambahkan, koperasi belum diarahkan pada sistem simpan pinjam pada tahap awal. “Kami lebih mengedepankan kegiatan jual beli dan penguatan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Menurutnya, kehadiran koperasi diharapkan mampu memberikan dampak langsung, terutama bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). “Harapannya bisa menggerakkan ekonomi masyarakat secara langsung,” ujarnya.

Di sisi lain, Pemdes Tanjungsari menghadapi penurunan anggaran pada 2026.

Anggaran desa pada 2026 sekitar Rp375 juta, menurun dibanding tahun sebelumnya yang berkisar Rp1,2 miliar. “Penurunannya cukup besar, sehingga program harus disesuaikan dengan kondisi yang ada,” ungkapnya.

Dampaknya, pembangunan fisik desa yang sebelumnya direncanakan merata di setiap dusun kini diprioritaskan. “Saat ini pembangunan difokuskan pada satu titik untuk tujuh dusun sesuai hasil kesepakatan musyawarah desa,” jelasnya.

Meski demikian, pemerintah desa memastikan program tetap berjalan sesuai prioritas dan kebutuhan masyarakat.

Di tengah keterbatasan anggaran, pelayanan administrasi kepada masyarakat tetap berjalan normal.

“Pelayanan seperti pengurusan KTP, KK, dan surat-surat lainnya tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.

Untuk meningkatkan kualitas layanan, pemerintah desa juga mendorong peningkatan sumber daya manusia serta pemanfaatan teknologi informasi. “Sekarang kita arahkan ke sistem berbasis elektronik agar pelayanan lebih cepat dan efisien,” terangnya.

Dari sisi ekonomi, mayoritas warga Tanjungsari bekerja sebagai karyawan pabrik. Sementara itu, UMKM lokal masih didominasi usaha kecil.

“Seperti usaha jamu, telur asin, kopi kemasan, dan kue rumahan. Perkembangannya masih sederhana,” katanya.

Kehadiran koperasi diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat sektor tersebut. “Harapannya UMKM bisa berkembang dan mendapat dukungan yang lebih luas,” tambahnya.

Sejauh ini, belum ada keluhan dari masyarakat terkait pembangunan koperasi. Warga justru menaruh harapan agar koperasi segera beroperasi dan memberikan dampak ekonomi.

“Kami berharap masyarakat terus menjaga komunikasi dan bersinergi dengan pemerintah desa. Jika ada permasalahan, bisa diselesaikan melalui koordinasi dan musyawarah,” pungkasnya. (*)

TrendingMore