Muklason, S.E., calon Kepala Desa Suko nomor urut 1 (Bagus/Lintas Samudera)
Lintassamudera.com — Sore itu, suasana sederhana menyelimuti pertemuan dengan Muklason. Tanpa kesan berjarak, ia duduk santai, menyambut pertanyaan dengan nada tenang. Tak ada gestur berlebihan, apalagi retorika politik yang dibuat-buat.
Di tengah kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Suko 2026, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, nama Muklason muncul sebagai salah satu kandidat. Ia maju dengan nomor urut 1.
Namun, berbeda dari sebagian calon lain yang kerap menonjolkan visi besar, Muklason justru memperkenalkan dirinya secara sederhana.
“Saya ini warga biasa. Kalau ada yang butuh bantuan dan saya mampu, ya saya bantu,” ucap Muklason santai kepada media ini, Selasa (05/05/2026) sore.
Keputusan Muklason maju sebagai calon kepala desa bukan tanpa alasan. Ia mengaku terdorong oleh keinginan memperbaiki kondisi desa yang menurutnya masih memiliki banyak kekurangan.
“Niat saya sederhana—ibadah. Saya ingin kampung ini lebih baik dari sebelumnya,” katanya pelan.
Baginya, jabatan bukan tujuan utama. Ia melihat kepemimpinan sebagai bentuk pengabdian.
Dalam pandangannya, Desa Suko masih membutuhkan pembenahan di berbagai aspek, terutama pelayanan publik dan pembangunan.
“Masih banyak yang perlu dibenahi, terutama pelayanan. Keluhan warga itu nyata,” ungkapnya.
Ia menyinggung proses pengajuan bantuan yang dinilai berlarut-larut. Kondisi itu, kata dia, membuat warga kerap menunggu tanpa kepastian.
Tak jarang, ia turun langsung membantu. “Kalau saya punya rezeki, saya bantu langsung. Kalau belum, kita cari solusi bersama,” lanjutnya.
Jika dipercaya memimpin, Muklason menempatkan pelayanan publik dan kemandirian desa sebagai prioritas utama.
“Anak-anak muda ini harus punya peluang. Pelatihan kerja itu penting supaya mereka tidak menganggur,” tegasnya.
Ia mencontohkan inisiatif di Dusun Legok yang mulai diarahkan pada kegiatan produktif agar lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Berbeda dari gaya kampanye yang penuh janji, Muklason memilih pendekatan realistis.
Ia mengaku telah menjalin komunikasi dengan akademisi dan sejumlah pihak untuk mendukung program desa ke depan.
“Saya tidak ingin obral janji. Yang penting kerja nyata dan maksimal,” ujarnya menekankan.
Muklason melihat potensi Desa Suko cukup besar jika dikelola dengan baik. Salah satu gagasan yang muncul adalah pengembangan desa wisata yang dapat membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Ia juga menyoroti pentingnya penataan fasilitas umum, termasuk kebutuhan lahan makam yang harus direncanakan secara matang dan diatur melalui regulasi yang jelas.
Dalam hal tata kelola pemerintahan, Muklason menekankan pentingnya transparansi sebagai fondasi kepercayaan publik.
“Ke depan, saya ingin pelayanan lebih terbuka. Bisa lewat digital, supaya warga mudah mengakses informasi,” jelasnya.
Muklason memiliki harapan sederhana namun jelas: menjadikan Desa Suko sebagai desa mandiri.
“Kita ini dekat kota. Harusnya bisa maju, jangan sampai tertinggal,” katanya.
Ia menilai, kunci utama adalah mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja di desa sendiri, terutama bagi generasi muda.
Menjelang Pilkades Suko yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Mei 2026, Muklason menyampaikan pesan kepada masyarakat.
“Silakan pilih sesuai hati nurani. Jangan sampai pilihan ditentukan karena uang,” pintanya.
Di tengah hiruk-pikuk kontestasi desa, Muklason hadir dengan pendekatan yang tidak muluk. Ia tidak menjanjikan perubahan instan, tetapi menawarkan usaha dan keterlibatan langsung.
Bagi sebagian warga, kesederhanaan itu bisa menjadi kekuatan. Namun bagi yang lain, justru menjadi tantangan untuk dibuktikan.
Pilkades Suko 2026 akan menjadi ruang bagi warga untuk menilai: apakah sosok “warga biasa” ini layak diberi kepercayaan memimpin desa ke depan. (*)
