Foto : "Siswa-siswi SMAN 1 Lunyuk membaca bersama di perpustakaan sekolah. Di balik keterbatasan fasilitas, semangat literasi tetap tumbuh.
Sumbawa, Lintassamudera.com — Di sebuah sudut selatan Kabupaten Sumbawa, berdiri sebuah sekolah yang menjadi sandaran masa depan ribuan keluarga petani dan nelayan: SMA Negeri 1 Lunyuk. Sejak berdiri pada 2001, sekolah ini tak banyak muncul di pemberitaan. Namun diam-diam, ia telah melahirkan lulusan yang kini bekerja di berbagai sektor—dari pemerintahan daerah, industri tambang, hingga dunia pelayaran internasional.
“Kami ini satu-satunya SMA di Kecamatan Lunyuk. Jadi perannya sangat strategis bagi tujuh desa,” kata Kepala Sekolah melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Lunyuk, Dony Hartono, saat ditemui oleh media ini, Senin (08/12/2025) siang. “Walau terpencil, banyak alumni kami yang berhasil. Hanya saja tidak terekspos.”
Mayoritas siswa SMAN 1 Lunyuk adalah anak petani dan nelayan. Banyak di antara mereka yang harus kembali ke ladang selepas pulang sekolah. Situasi ini membentuk karakter kuat—tapi juga menyisakan hambatan.
“Keinginan anak-anak untuk kuliah itu besar sekali. Tapi karena keterbatasan ekonomi, dari 130 yang lulus tiap tahun, yang bisa lanjut kuliah tidak sampai separuh,” ujar Dony.
Kondisi sosial ekonomi desa membuat sebagian siswa kurang percaya diri ketika berhadapan dengan kompetisi tingkat kabupaten atau provinsi. “Secara mental memang beda. Mereka jarang bersentuhan dengan dunia luar,” katanya.
Secara fisik, bangunan SMAN 1 Lunyuk telah membaik. Laboratorium komputer, kimia, dan bahasa telah tersedia, meski beberapa fasilitas masih menunggu pengadaan.
“Kita punya lab, perpustakaan hidup, program literasi jalan. Hanya kendala besarnya di internet. Di sekolah belum ada WiFi,” katanya. “Paket data mahal. Anak-anak sering bilang, ‘Pak, saya nggak ada paket.’ Hal-hal kecil begini menghambat proses belajar.”
Dony berharap pemerintah daerah dan provinsi dapat memberikan akses internet gratis bagi sekolah-sekolah terpencil.
Masuknya aktivitas pertambangan di wilayah selatan Sumbawa membawa dampak besar bagi masyarakat. SMAN 1 Lunyuk, kata Dony, berada di posisi strategis untuk mempersiapkan SDM lokal agar tidak hanya menjadi tenaga kerja level dasar.
“Sekarang yang mendominasi itu lulusan SMA. Tapi untuk posisi strategis, dibutuhkan skill tambahan. Kami berharap ada balai latihan kerja yang fokus tambang didirikan di selatan,” ujarnya.
Ia mengaku sudah beberapa kali mengajukan aspirasi ini.
Dengan perusahaan tambang, khususnya PT Amman Mineral, Dony berharap ada perhatian lebih besar: “Kami ingin produk lulusan SMA diutamakan. Agar anak-anak tidak terjebak ke perilaku negatif akibat tidak terserap lapangan kerja.”
Meski di wilayah terpencil, deretan prestasi terus tumbuh: juara drama tingkat provinsi, unggul di olimpiade fisika dan kimia, serta aktif dalam kegiatan BNN dan pemerintahan kecamatan.
“Kami ini aktif. Website sekolah juga jalan. Tapi karena di selatan, eksposnya kurang,” kata Dony tersenyum.
Dalam hal akademik, SMAN 1 Lunyuk selalu mengikuti kurikulum terbaru, melakukan pembinaan guru, hingga membuka layanan belajar tambahan bagi siswa yang membutuhkan.
Komite sekolah—yang berisi orang tua siswa—menjadi salah satu kekuatan terbesar. Semua kegiatan sekolah mendapat dukungan penuh dari mereka.
“Tidak pernah ada penolakan. Orang tua sangat mendukung. Karena mereka melihat sendiri perkembangan anak-anak,” ungkap Dony.
Yang masih minim adalah perhatian dari dunia usaha dan perbankan lokal. “Sekolah ini butuh support. Misalnya pengecatan atau perbaikan kecil. Kalau ada perusahaan yang mau jadi donatur, itu sangat berarti.”
Dony memandang lima tahun mendatang SMAN 1 Lunyuk harus menjadi sekolah pionir di selatan Sumbawa—lebih maju, lebih modern, dan lebih siap menyiapkan SDM lokal untuk bersaing di era tambang dan digital.
“Tapi itu butuh dukungan pemerintah dan perusahaan,” ujarnya. “Anak-anak kami mampu. Tinggal diberi kesempatan dan fasilitas.”
Sebelum mengakhiri wawancara, Dony menyampaikan satu pesan penting:
“Tolong bantu kami dengan WiFi gratis untuk sekolah. Itu kebutuhan paling mendesak. Agar anak-anak tidak terbebani biaya paket. Dengan internet yang layak, mereka bisa membuka wawasan lebih luas.”
Selain itu, ia berharap peningkatan fasilitas bangunan dapat terus dilakukan secara bertahap.
“Renovasi kecil-kecil sudah cukup. Pemerintah selama ini membantu, tinggal kita bergiliran. Kami paham,” ucapnya.
Dari ruang kelas yang dikepung hamparan jagung dan bukit karang, SMAN 1 Lunyuk menjaga sesuatu yang sederhana namun penting: harapan. Harapan agar anak-anak desa tidak merasa lebih kecil dari mereka yang di kota.
Harapan agar pendidikan menjadi jalan untuk keluar dari kemiskinan.
Dan harapan agar pemerintah serta dunia usaha melihat bahwa masa depan Sumbawa Selatan dimulai dari sini. (bgs)
