Wayan Teguh menunjukkan hasil pembangunan drainase di Desa Sukamaju, Kecamatan Lunyuk. (Lintas Samudera/Bagus) |
Sumbawa, lintassamudera.com – Pemerintah Desa (Pemdes) Sukamaju, Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, memilih memfokuskan penataan lingkungan sebagai langkah prioritas di tengah keterbatasan anggaran desa. Upaya ini dilakukan untuk menjawab persoalan genangan air yang kerap terjadi saat musim hujan.
Kepala Desa Sukamaju, Wayan Teguh, mengatakan bahwa sepanjang 2025 pemerintah desa tetap menjalankan program sesuai rencana, meski belum seluruhnya berjalan maksimal.
“Yang kami maksimalkan itu pembangunan fisik desa. Selain itu, ketahanan pangan melalui jaringan irigasi tersier,” kata Teguh saat ditemui di lokasi pembangunan, Selasa (24/03/2026).
Teguh menyebut, keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala utama dalam pelaksanaan program.
Memasuki 2026, arah kebijakan desa disesuaikan melalui musyawarah bersama masyarakat dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Hasilnya, penanganan lingkungan menjadi kebutuhan mendesak.
“Karena anggaran terbatas, kami prioritaskan yang paling dibutuhkan masyarakat. Di Sukamaju ini, setiap musim hujan sering terjadi genangan di wilayah perkampungan,” ujarnya.
Pembangunan drainase yang telah mencapai sekitar 1.400 meter diharapkan mampu mengurangi dampak genangan sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan permukiman.
Selain penataan lingkungan, pemerintah desa juga mendorong pergerakan ekonomi melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan pasar desa.
“Dampaknya sudah mulai terasa, baik dari sisi infrastruktur maupun peningkatan ekonomi melalui BUMDes,” ungkapnya.
Pendapatan asli desa (PADes) dari BUMDes menjadi salah satu penopang kegiatan di tengah kondisi fiskal desa yang terbatas.
Di tengah keterbatasan, partisipasi masyarakat tetap menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan program.
“Partisipasi masyarakat sangat luar biasa, terutama dalam gotong royong,” jelasnya.
Ia menambahkan, beberapa kegiatan seperti pembangunan saluran irigasi sempat dikerjakan secara swadaya.
“Masyarakat memahami kondisi anggaran yang terbatas, sehingga mereka ikut membantu agar pekerjaan tetap berjalan,” tambahnya.
Wayan mengakui bahwa tantangan di lapangan tidak hanya soal anggaran, tetapi juga faktor teknis dan cuaca.
“Yang jelas itu faktor anggaran, kemudian juga teknis di lapangan,” katanya.
Menurut dia, kondisi cuaca menjadi salah satu penyebab keterlambatan pekerjaan.
“Kalau target tetap kami upayakan tercapai, tapi waktunya sedikit molor karena hujan,” ujarnya.
Sejumlah program penunjang ketahanan pangan, seperti pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT), belum dapat direalisasikan secara optimal.
“Untuk ketahanan pangan, khususnya JUT, memang belum maksimal karena keterbatasan anggaran,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan dukungan anggaran dapat lebih ditingkatkan agar pembangunan desa berjalan lebih maksimal.
“Harapan kami, dana desa bisa kembali seperti sebelumnya, supaya pembangunan di desa bisa lebih maksimal,” tandasnya.
Dalam pengelolaan anggaran, pemerintah desa tetap mengedepankan keterbukaan kepada masyarakat.
“Kami selalu menyampaikan laporan, memasang informasi di kantor desa dan balai banjar, serta menyampaikan capaian dalam setiap pertemuan,” katanya.
Meski dilakukan secara bertahap, pembangunan yang berjalan dinilai mulai memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
“Walaupun belum maksimal, kami tetap berupaya agar pembangunan berjalan sesuai rencana dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)
Editor : Bagus Setyabudi