Top Menu

IrigasinewsPertanian

Irigasi Lunyuk Jebol Tiga Kali, 500 Hektare Sawah Terancam, Perbaikan Masih Tunggu Anggaran

Rabu, 25 Maret 2026, Maret 25, 2026 WAT
Last Updated 2026-03-25T09:25:06Z
Warga bersama petani P3A melakukan perbaikan darurat saluran irigasi yang jebol secara swadaya di Kecamatan Lunyuk, Sumbawa.



Sumbawa, lintassamudera.com — Saluran irigasi di wilayah Kokar Loak, Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, kembali jebol di tengah musim tanam. Kerusakan berulang ini memaksa petani melakukan perbaikan secara swadaya, sementara penanganan permanen masih menunggu realisasi anggaran.

Kerusakan terjadi sejak pertengahan Maret setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Saluran ini menjadi urat nadi pengairan bagi ratusan hektare sawah warga di Lunyuk.

Koordinator Kecamatan Forum Komunikasi Perkumpulan Petani Pemakai Air (FKP3A) Lunyuk, Damhuji, mengatakan kejadian ini bukan yang pertama.

“Sudah tiga kali jebol di titik yang sama sejak awal Maret. Bahkan dalam tiga tahun terakhir ini sering berulang,” ujar Damhuji, Selasa (24/03/2026).

Dampaknya cukup besar. Sekitar 500 hektare lahan pertanian terdampak akibat terganggunya aliran air. Selain kerusakan fisik, material lumpur dan batu juga menutup saluran sehingga distribusi air tidak berjalan normal.

Di tengah keterbatasan, petani bersama kelompok tani (Gapoktan) dan P3A melakukan perbaikan darurat secara gotong royong, termasuk menggunakan karung dan membersihkan material yang menutup saluran.

Petani menutup saluran irigasi dengan karung untuk menahan aliran air akibat kerusakan yang berulang.


“Ini murni swadaya. Kami turun langsung karena kalau menunggu, sawah bisa gagal tanam,” kata Damhuji.

Kondisi serupa dibenarkan Kepala Desa Suka Maju, Wayan Teguh. Ia menyebut pemerintah desa bersama tiga desa lain—Lunyuk Rea, Emang Lestari, dan Padasuka—ikut terlibat dalam penanganan sementara.

Menurut Teguh, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama sehingga penanganan dilakukan secara gotong royong.

“Iuran dari P3A sekitar Rp1,5 juta per kelompok belum cukup. Desa ikut membantu tenaga dan anggaran, tapi sifatnya terbatas,” ujarnya.

Selain gotong royong, warga juga menyewa alat berat untuk mengeruk material yang menumpuk di saluran, dengan biaya yang dikumpulkan secara swadaya agar air tetap dapat mengalir ke lahan pertanian.

warga menyewa alat berat untuk mengeruk saluran irigasi agar aliran air kembali mengalir ke sawah.


Namun, perbaikan darurat ini belum menjamin ketahanan saluran. Jika hujan deras kembali terjadi dan debit air meningkat, saluran berpotensi kembali jebol.

“Tidak ada jaminan. Kalau debit air naik, kemungkinan besar bisa rusak lagi,” kata Damhuji.

Damhuji menilai kondisi ini tidak hanya menunjukkan kuatnya gotong royong petani, tetapi juga menjadi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan dasar sektor pertanian.

Laporan terkait kerusakan telah disampaikan ke instansi terkait. Pemerintah desa dan kelompok tani berharap ada intervensi serius agar perbaikan dapat dilakukan secara permanen.

“Kami sangat berharap ada penanganan segera. Ini menyangkut ketahanan pangan,” ujar Teguh.

Sementara itu, Dinas PUPR Kabupaten Sumbawa menyebut saluran irigasi tersebut merupakan bagian dari Daerah Irigasi (DI) Plara dengan luas di atas 1.000 hektare yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) PUPR Sumbawa, Firmansyah Malanung, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi terkait penanganan jaringan irigasi tersebut.

“Irigasi di Lunyuk itu bagian dari DI Plara, kewenangannya di PUPR Provinsi,” ujar Firmansyah saat dikonfirmasi, Rabu (25/03/2026).

Ia juga mengapresiasi langkah swadaya yang dilakukan petani di lapangan.

“Kami sangat mengapresiasi pengurus GP3A dan P3A yang melakukan perbaikan secara swadaya,” katanya.

Namun hingga kini, pihaknya mengaku belum menerima informasi lebih lanjut terkait rencana penanganan dari pemerintah provinsi.

“Untuk penanganannya, PUPR Provinsi yang bisa menjawab. Kami belum diinformasikan rencana penanganannya,” ujar Firmansyah.

Terpisah, Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Wilayah Pulau Sumbawa, Eko Rusdianto, mengatakan penanganan irigasi di wilayah tersebut belum dapat dilakukan dalam waktu dekat karena keterbatasan anggaran.

“Untuk saat ini belum bisa ditangani sampai Maret. Kami sedang menyiapkan usulan anggaran untuk pemeliharaan saluran dan perbaikan bagian yang rusak. Mudah-mudahan bisa direalisasikan pada April,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas PUPR Provinsi NTB saat dikonfirmasi menyatakan pihaknya masih melakukan pengecekan.

“Sedang kami cek,” ujarnya singkat.

Meski penanganan permanen belum dapat dilakukan dalam waktu dekat, kondisi di lapangan menunjukkan kebutuhan mendesak akan intervensi pemerintah. Perbaikan yang masih mengandalkan swadaya dinilai belum cukup menjamin keberlangsungan aliran air, sementara musim tanam terus berjalan.

Wilayah Lunyuk selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Kabupaten Sumbawa. Karena itu, keberadaan irigasi menjadi infrastruktur vital bagi keberlangsungan produksi pertanian.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak Kecamatan Lunyuk belum memberikan respons atas permintaan konfirmasi. (bgs)

TrendingMore