Guru dan siswa SMAN 7 Mataram bersalaman dalam kegiatan halal bihalal usai libur Idul Fitri.
Lintassamudera.com — Pagi itu, halaman SMAN 7 Mataram kembali dipenuhi barisan siswa berseragam rapi. Setelah libur panjang Idul Fitri, aktivitas belajar mengajar mulai berjalan kembali, ditandai dengan apel pagi dan halal bihalal yang berlangsung hangat namun tetap tertib.
Sebagian siswa terlihat masih menyesuaikan ritme. Namun, suasana kebersamaan terasa kuat saat guru dan siswa saling bersalaman, membuka hari pertama dengan nuansa saling memaafkan.
Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram melalui Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan, Suryadi, S.Pd.Si, mengatakan tingkat kehadiran guru pada hari pertama pascalibur tergolong tinggi.
“Untuk guru yang hadir sekitar 98 persen. Yang tidak masuk hanya beberapa orang karena sakit,” ujar Suryadi saat ditemui di sela kegiatan sekolah oleh wartawan, Rabu (31/03/2026).
Sementara itu, kehadiran siswa pada hari pertama tercatat sekitar 80 persen. Sebagian siswa, menurutnya, masih berada di luar daerah dan belum kembali ke Mataram.
“Memang ada yang belum kembali karena masih di kampung halaman. Tapi kami langsung lakukan langkah penegasan agar kehadiran meningkat di hari berikutnya,” jelasnya.
Langkah itu dilakukan melalui koordinasi dengan wali kelas. Siswa diingatkan untuk kembali disiplin sejak hari kedua.
“Di hari kedua kami targetkan kehadiran meningkat. Alhamdulillah sudah mencapai sekitar 96 persen,” katanya.
Di tengah masa transisi pascalibur, sekolah menaruh perhatian pada penguatan disiplin. Apel pagi menjadi salah satu instrumen untuk mengembalikan ritme belajar siswa.
Masih ditemukan siswa yang datang terlambat. Namun, sekolah memilih pendekatan pembinaan yang lebih persuasif.
“Kedisiplinan ini memang perlu terus diperkuat. Kami libatkan wali kelas untuk memastikan siswa sudah hadir sebelum pukul 07.15 dan siap mengikuti kegiatan di lapangan,” terangnya.
Selain itu, kegiatan apel dan pengarahan dimanfaatkan sebagai ruang pembinaan karakter. Sekolah menekankan pentingnya tanggung jawab, ketertiban, dan sikap saling menghormati di lingkungan pendidikan.
Di sisi lain, sekolah juga mulai bersiap menghadapi Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran mendatang. Hingga kini, petunjuk teknis dari pemerintah masih dinantikan.
“Kami masih menunggu juklak dan juknis resmi. Namun secara umum jalur yang digunakan masih seperti sebelumnya,” jelasnya.
Ia menyebut, terdapat tiga jalur utama dalam penerimaan siswa baru, yakni jalur prestasi, afirmasi, dan zonasi.
“Jalur prestasi bisa dari akademik maupun non-akademik. Jalur afirmasi untuk siswa dengan KIP atau KIS. Sedangkan jalur umum atau zonasi berdasarkan jarak tempat tinggal,” ucapnya.
Meski dalam beberapa tahun sebelumnya jumlah pendaftar selalu melebihi kuota, tren tahun ajaran lalu justru mengalami penurunan.
“Tahun kemarin ada beberapa kelas yang tidak terisi penuh. Kemungkinan karena persaingan dengan sekolah lain yang dianggap lebih favorit,” katanya.
Ia mengakui, daya tarik sekolah juga dipengaruhi aktivitas ekstrakurikuler yang sempat menurun dalam beberapa waktu terakhir.
“Dulu ekskul seperti perkusi cukup menonjol hingga ke tingkat nasional. Itu yang menjadi daya tarik. Sekarang sedang kami dorong kembali agar lebih aktif,” tambahnya.
Untuk memastikan transparansi, informasi penerimaan siswa baru disediakan melalui jalur daring dan luring.
“Informasi bisa diakses melalui website sekolah. Selain itu, kami juga siapkan banner, brosur, dan pamflet di sekolah,” ujarnya.
Di akhir perbincangan, Suryadi menegaskan harapannya agar siswa tidak hanya kembali aktif secara akademik, tetapi juga menunjukkan perubahan sikap yang lebih baik setelah Ramadan dan Idul Fitri.
“Kami ingin kedisiplinan dan karakter siswa terus meningkat. Itu yang menjadi kunci agar sekolah ini semakin maju dan memiliki daya tarik bagi masyarakat,” pungkasnya.
Bagi SMAN 7 Mataram, momentum pascalibur bukan sekadar awal kembali ke kelas. Ia menjadi titik penting untuk menata ulang ritme belajar—menguatkan disiplin, sekaligus membangun karakter siswa di tengah dinamika pendidikan yang terus bergerak. (bgs)
Editor : Bagus Setyabudi