Top Menu

DaerahNewsPendidikan

Keterbatasan Anggaran, Dispusip Sumbawa Optimalkan Sosialisasi Srikandi Lewat Pendekatan Langsung

Tim Redaksi
Senin, 11 Mei 2026, Mei 11, 2026 WAT
Last Updated 2026-05-11T10:26:37Z
Sekertaris Dispusip Kabupaten Sumbawa, Fikri, S.K.M., (Ade/Lintas Samudera)

Lintassamudera.com – Kreativitas dan keteladanan menjadi kunci Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sumbawa dalam mendorong transformasi digital birokrasi serta peningkatan literasi masyarakat. Di tengah minimnya alokasi anggaran untuk bimbingan teknis (bimtek) massal, Sekretaris Dispusip Sumbawa, Fikri, S.K.M., memilih strategi "jemput bola" dengan melakukan sosialisasi dan pendampingan langsung (door-to-door) ke seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Langkah proaktif ini diambil untuk memastikan operator di setiap instansi memahami penggunaan aplikasi SRIKANDI, sistem surat-menyurat elektronik resmi pemerintah, tanpa membebani kas daerah.

"Saat ini saya jalan dari satu dinas ke dinas lain untuk sosialisasi. Itu cara kami agar aplikasi ini dikenal di seluruh OPD. Kalau mengadakan bimtek pasti membutuhkan dana, sementara anggaran kami terbatas," ungkap Fikri saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Jumat (08/05/2026).

Fikri menjelaskan, aplikasi SRIKANDI merupakan hasil kolaborasi strategis Kementerian PANRB, Kominfo, BSSN, dan Arsip Nasional RI (ANRI). Aplikasi ini mendukung Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dengan fitur tata naskah dinas, klasifikasi surat, hingga keamanan arsip yang teraudit oleh BSSN. Meski Surat Keputusan (SK) operator sudah diterbitkan, tantangan utama ada pada pemahaman teknis. Maka, pendampingan personal menjadi solusi paling efektif dan efisien.

"Keabsahan surat atau arsip di aplikasi ini dapat dipertanggungjawabkan karena dikembangkan langsung oleh kementerian terkait," tegasnya.

Tak hanya bergerak di internal pemerintahan, Dispusip Sumbawa juga membuka keran akses informasi bagi publik. Masyarakat kini dapat menelusuri sejarah dan khazanah kearsipan daerah melalui Jaringan Informasi Kearsipan Negara (JIKN) di sikn.anri.go.id.

Dalam upaya meningkatkan minat baca, Dispusip menerapkan pendekatan berbasis kebutuhan (needs-based). Koleksi buku di perpustakaan desa disesuaikan dengan mata pencaharian dominan warga setempat, seperti pertanian, kelautan, atau UMKM, hasil koordinasi rutin dengan pengelola perpustakaan desa.

"Kita sesuaikan dengan kebutuhan. Jika masyarakat butuh pengetahuan tentang pekerjaan atau usaha, maka buku-buku terkait itu yang kami sediakan," jelas Fikri.

Upaya digitalisasi perpustakaan juga terus dikejar, termasuk rencana penyediaan buku digital bekerja sama dengan pihak ketiga, meski masih menunggu dukungan anggaran yang memadai.

Komitmen Dispusip Sumbawa membuahkan hasil nyata. Data tahunan mencatat setidaknya 21.000 pengunjung memanfaatkan tiga layanan baca utama: Gedung Perpustakaan, Pojok Baca Taman Mangga, dan Perpustakaan Keliling. Antusiasme ini datang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga peneliti.

Bagi komunitas yang ingin mendirikan pojok baca mandiri, Fikri mengajak untuk mendaftar melalui portal data.perpusnas.go.id.

Menyadari keterbatasan anggaran yang menjadi tantangan umum di tingkat kabupaten, Fikri menekankan bahwa literasi adalah investasi jangka panjang. "Literasi dan pengetahuan sangat penting, terutama bagi generasi muda agar melek informasi. Insyaallah layanan kami sudah on the track dan akan terus kami optimalisasi," pungkasnya. (ade*)

Reporter : Ade Ikhsan Jaya | Editor : Bagus Setyabudi 

TrendingMore